Now

Breedie

Bukan situs luar negeri,
berisi konten yang easy but spicy



Sajian Fiksi

Profile

© 2021 Breedie - All Rights Reserved. RSS Webdev

Kasus Covid 19 di China Diduga Menyebar Sejak Awal Oktober

Para peneliti di Universitas Kent Inggris menduga virus yang menyebabkan penyakit covid 19 mulai menyebar di China sejak awal Oktober 2019.

Petugas menyemprot disinfektan di pasar Baishazhou selama kunjungan tim WHO yang ditugaskan menyelidiki asal usul covid 19, di Wuhan, provinsi Hubei, Cina, 31 Januari 2021. Foto: Reuters
Petugas menyemprot disinfektan di pasar Baishazhou selama kunjungan tim WHO yang ditugaskan menyelidiki asal usul covid 19, di Wuhan, provinsi Hubei, Cina, 31 Januari 2021. Foto: Reuters

BNOW ~ Para peneliti di Universitas Kent Inggris menduga virus yang menyebabkan penyakit covid 19 mulai menyebar di China sejak awal Oktober 2019, dua bulan sebelum kasus pertama diidentifikasi di kota Wuhan.

Melalui makalah yang diterbitkan dalam jurnal Plos Pathogens, Jumat 25 Juni 2021, para peneliti di Kent menyebutkan mereka menggunakan metode dari ilmu konservasi. Dengan metode tersebut mereka memperkirakan SARS CoV 2 muncul pertama kali sejak awal Oktober hingga pertengahan November 2019. Tanggal kemunculan virus yang paling mungkin adalah 17 November 2019, dan diduga sudah menyebar secara global pada Januari 2020.

Kasus covid 19 resmi pertama di China terjadi pada Desember 2019 dan dikaitkan dengan pasar makanan laut Huanan di Wuhan. Namun, beberapa kasus awal tidak berhubungan dengan Huanan. Hal ini menyiratkan dugaan SARS-CoV-2 sudah beredar sebelum mencapai pasar.

Studi bersama yang diterbitkan China dan Organisasi Kesehatan Dunia pada akhir Maret mengakui kemungkinan munculnya infeksi sporadis pada manusia sebelum wabah Wuhan.

Jesse Bloom dari Pusat Penelitian Kanker Fred Hutchinson di Seattle, Amerika Serikat, dalam makalah yang dirilis pekan ini, memulihkan data urutan kasus yang menghapus infeksi awal covid 19 di China.

Data menunjukkan sampel yang diambil dari pasar Huanan “tidak mewakili” SARS-CoV-2 secara keseluruhan. Sampel dari pasar itu hanyalah varian dari urutan nenek moyang corona yang beredar sebelumnya dan menyebar ke bagian lain China.

Institut Kesehatan Nasional Amerika Serikat mengonfirmasi kepada Reuters bahwa sampel yang digunakan dalam penelitian itu sempat diserahkan ke Sequence Read Archive—pusat database bioteknologi—pada Maret 2020. Namun sampel kemudian dihapus atas permintaan penyelidik China yang mengatakan akan memperbaruinya dan meletakkannya ke arsip lain.

Kritikus mengatakan penghapusan itu bukti China berusaha menutupi asal-usul covid 19. “Mengapa para ilmuwan meminta basis data internasional menghapus data penting yang memberi tahu kita tentang bagaimana covid 19 dimulai di Wuhan?” tulis peneliti Harvard’s Broad Institute, Alina Chan di Twitter.

Baca Juga: Tim Ahli WHO Datangi Lokasi Virus Corona Pertama Kali Terdeteksi

Sementara itu, para ilmuwan Australia juga melakukan riset serupa yang diterbitkan di jurnal Scientific Reports, Kamis, 24 Juni 2021. Studi itu menggunakan data genom untuk menunjukkan SARS CoV 2 mengikat reseptor manusia jauh lebih mudah ketimbang spesies lain. Hal ini menunjukkan virus itu telah beradaptasi dengan manusia ketika pertama kali muncul.

Riset itu juga menunjukkan kemungkinan ada hewan tak dikenal lain dengan afinitas lebih kuat yang berfungsi sebagai spesies perantara. Tetapi hipotesis yang menyebutkan virus itu bocor dari laboratorium tidak dapat dikesampingkan.

“Meskipun jelas virus awal memiliki kecenderungan tinggi untuk reseptor manusia, itu tidak berarti mereka ‘buatan manusia’. Kesimpulan seperti itu tetap spekulatif,” ujar Dominic Dwyer, ahli penyakit menular di Rumah Sakit Westmead Australia. Dia juga bagian dari tim WHO yang menyelidiki covid 19 di China tahun ini.

Menanggapi hasil studi di Kent, Profesor Stuart Turville dari Kirby Institute, Australia, mengatakan sampel serum masih perlu diuji untuk membuat argumen lebih kuat tentang asal-usul covid 19. “Sayangnya dengan tekanan hipotesis kebocoran laboratorium saat ini dan kepekaan dalam melakukan penelitian lanjutan di China, mungkin perlu waktu sampai kita melihat laporan seperti itu.”

(Visited 256 times, 1 visits today)

Komentar

Terpopuler Sepekan