Tak Setuju dengan Kebijakan Privasi Baru WhatsApp? Ini Risikonya

BNOW ~ WhatsApp sepertinya kian terdesak untuk segera merealisasikan kebijakan privasi baru yang tertunda akibat keresahan massal di internet bulan lalu.

Dilansir dari Techcrunch, WhatsApp mengatakan awal pekan ini akan memungkinkan pengguna meninjau pembaruan privasi yang tertunda sejak 7 Januari lalu.

WhatsApp pun memberikan tenggat hingga 15 Mei 2021 kepada pengguna untuk menyetujui kebijakan tersebut. Apa yang bakal terjadi jika pengguna enggan menerima pembaruan tersebut?

Dalam email ke salah satu mitra pedagangnya, WhatsApp menyebutkan akan “perlahan-lahan” meminta pengguna mematuhi persyaratan baru “agar memiliki fungsionalitas penuh WhatsApp” mulai 15 Mei.

Jika pengguna menolak, dalam “waktu yang singkat”, pengguna hanya akan dapat menerima panggilan dan notifikasi. “Tetapi tidak akan dapat membaca atau mengirim pesan dari aplikasi,” tulis WhatsApp.

“Waktu singkat” yang dimaksud akan berlangsung beberapa pekan. Dalam catatan yang ditautkan ke halaman FAQ terbaru, WhatsApp mengatakan kebijakannya terkait pengguna tidak aktif akan berlaku setelah 15 Mei.

Oke, apa yang akan terjadi setelah tanggal itu? Halaman FAQ menyebutkan WhatsApp tidak akan menghapus akun pengguna yang tidak menerima persyaratan baru. Namun, akun yang tidak aktif setelah 120 hari biasanya dihapus.

“Untuk menjaga keamanan, membatasi penyimpanan data, dan melindungi privasi pengguna kami, akun WhatsApp umumnya dihapus setelah 120 hari tidak aktif,” tulis WhatsApp.

Konten yang disimpan di perangkat pengguna sebelum akun dihapus, tetap ada sampai WhatsApp dihapus dari perangkat. “Saat pengguna mendaftar ulang untuk WhatsApp di perangkat yang sama, konten yang disimpan secara lokal akan muncul kembali.”

Bulan lalu, setelah kebijakan privasi terbarunya mengundang kehebohan, WhatsApp mencoba meyakinkan pengguna kalau tak ada rencana jahat untuk membagikan data pribadi mereka dengan perusahaan induknya, Facebook.

Namun, yang perlu dicatat, WhatsApp telah berbagi metadata tertentu seperti nomor telepon pengguna dan informasi perangkat dengan Facebook sejak 2016. Tahun itu, kebijakan tersebut sepertinya tak menimbulkan keriuhan seperti sekarang.

Baca Juga: WhatsApp Bantah Rumor Negatif Terkait Kebijakan Privasi Pengguna

Kebijakan privasi baru akan memungkinkan WhatsApp dan Facebook berbagi pembayaran serta data transaksi. Tujuannya, untuk membantu mereka menargetkan iklan dengan lebih baik karena raksasa media sosial tersebut memperluas penawaran e-commerce dan berupaya menggabungkan platform perpesanannya.

Kamis lalu, WhatsApp mengumumkan akan menampilkan banner di aplikasi untuk menjelaskan tentang kebijakan privasi baru. “Kami akan mulai mengingatkan orang-orang meninjau dan menerima pembaruan ini untuk tetap menggunakan WhatsApp.”

Kini, pengguna WhatsApp telah mencapai lebih dari dua miliar. Kebijakan privasi baru WhatsApp kemungkinan akan mereduksi jumlah pengguna seiring makin bangkitnya kesadaran privasi pengguna internet.

Terkini

Krisis Krimea: Rusia Sebut Amerika Serikat Sebagai Musuh

Krisis Krimea awalnya hanya masalah domestik Ukraina. Namun pada perkembangannya melibatkan negara-negara Uni Eropa dan Rusia.

“Film Dokumenter Seaspiracy Memuat Fakta Penting Sekaligus Menyesatkan”

Stewart menilai perlu dibuat film dokumenter "tandingan" untuk menanggapi Seaspiracy. Dia mencontohkan End of the Line yang diproduksi pada 2009.

Kota Kuno Berusia 3.000 Tahun Ditemukan di Mesir

Ahli sejarah Mesir Kuno Zahi Hawaass menyebut Aten sebagai "kota emas yang hilang" tertimbun pasir ribuan tahun lamanya.

Foto Bangunan Putih di Tengah Hutan Ternyata bukan Rumah Vladimir Putin

Foto berlabel "Rumah Putin" di Sochi, Rusia, beredar luas dan dipercaya netizen sebagai rumah milik Presiden Rusia Vladimir Putin.

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here