Tokoh Oposisi Rusia Bongkar Cara Agen FSB Membunuhnya dengan Racun

BNOW ~ Pemimpin oposisi Rusia Alexey Navalny membongkar cara agen intelijen Federalnaya Sluzhba Bezopasnosti atau FSB kiriman Kremlin mencoba membunuhnya dengan racun saraf Novichok yang dioleskan di celana dalam.

Navalny, 44 tahun, sempat koma selama tiga pekan pada Agustus lalu akibat upaya pembunuhan tersebut. Nyawanya terselamatkan setelah dia dievakuasi ke Jerman.

Setelah pulih, dia mencari tahu siapa yang meracuninya. “Saya tahu siapa yang ingin membunuh saya, di mana mereka bekerja. Saya tahu nama asli mereka,” ujar Navalny dalam video yang diposting di YouTube.

Setelah mendapatkan beberapa nama, dia pun menghubungi salah satu agen yang diduga anggota tim elit bagian racun di FSB, yang ditugaskan untuk membunuhnya.

Percakapan Navalny dengan agen bernama Konstantin Kudryavtsev melalui panggilan telepon itu direkam dan diunggah ke YouTube.

Hasilnya sangat mengejutkan dan dinilai hal yang memalukan bagi komunitas intelijen Rusia.

Saat menghubungi Kudryavtsev, Navalny berpura-pura sebagai salah seorang pejabat senior di Dewan Keamanan Nasional Rusia. Dia menanyakan kepada Kudryavtsev sebab operasi pembunuhan tersebut gagal.

Kudryavtsev yang awalnya ragu-ragu karena perbincangan terjadi di saluran telepon yang tidak aman, akhirnya mengungkapnya secara terang-benderang.

Kenapa Navalny Diracun?

Navalny tiba-tiba sakit parah dalam penerbangan dari Tomsk ke Moskow, Agustus lalu. Pilot langsung mendaratkan pesawat di kota Omsk, Siberia. Setelah menerima perawatan darurat di rumah sakit, dia dibawa ke Jerman untuk perawatan lebih lanjut.

Laboratorium pemerintah Jerman menyatakan Navalny diracun dengan Novichok, sejenis senjata kimia yang pernah dikembangkan Uni Soviet.

Navalny sendiri telah lama dianggap sebagai “duri dalam daging” oleh Presiden Vladimir Putin. Sebagai tokoh oposisi, ia kerap mengungkap dugaan korupsi yang dilakukan orang-orang di lingkaran Putin.

Navalny berulang kali dipenjara karena aktivitasnya selama bertahun-tahun dan sering mengalami pelecehan, termasuk serangan fisik.

Dibuntuti Lebih dari Tiga Tahun

Investigasi kolaborasi antara organisasi investigasi independen Bellingcat dan The Insider, bekerja sama dengan Der Spiegel dan CNN menemukan regu perwira FSB yang terdiri dari enam hingga 10 agen, membuntuti Navalny selama lebih dari tiga tahun.

Bellingcat mengatakan setidaknya tiga anggota regu yang sama mengikuti ke Tomsk saat Navalny keracunan. Saat itu, mereka melakukan kontak dengan spesialis senjata kimia FSB.

Peneliti Bellingcat menggunakan data telepon, informasi paspor yang bocor, dan catatan penerbangan untuk melacak pergerakan tim FSB, yang sangat tumpang tindih dengan Navalny.

Petugas FSB melakukan 37 perjalanan ke tujuan dan waktu yang sama dengan Navalny antara 2017 hingga 2020. Dari semua perjalanan petugas FSB, hanya satu yang tidak tumpang tindih. Navalny dibuntuti sangat ketat.

Dari hasil identifikasi, sekitar delapan agen FSB diduga terlibat langsung dalam insiden keracunan Navalny di Tomsk. Bellingcat telah memposting foto-foto pria yang diduga agen FSB tersebut.

Semuanya berasal dari satu unit dalam FSB yang disebut Institut Kriminalistik atau Institut Penelitian Ilmiah No.2 atau NII-2. Unit ini secara resmi ditugaskan untuk pekerjaan forensik FSB.

Namun, menurut pembelot KGB, unit itu juga rumah bagi laboratorium racun rahasia.

Terkini

Kasus Covid 19 di China Diduga Menyebar Sejak Awal Oktober

Para peneliti di Universitas Kent Inggris menduga virus yang menyebabkan penyakit covid 19 mulai menyebar di China sejak awal Oktober 2019.

Taliban Ambil Alih Wilayah Terpenting Afghanistan

Lusinan distrik jatuh ke tangan Taliban sejak 1 Mei ketika Amerika Serikat dan NATO menarik mundur pasukan terakhir mereka dari Afghanistan.

Inggris Tetapkan Jumlah Penonton Final Euro 2020 di Stadion Wembley

Keputusan penambahan kapasitas penonton di Wembley keluar setelah Perdana Menteri Italia meminta pertandingan final Euro 2020 dipindahkan.

Hacker Korea Utara Diduga Serang Institut Nuklir Korea Selatan

Sebelum menyerang KAERI, kelompok hacker Korea Utara Kimsuky diduga telah memasang malware dalam database dokumen Covid-19 Korea Selatan.

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here